Writing Journey

In term of writing, 2016 wasn’t really a good year for me. I was sooo unproductive. At first, I wanted to “blame” my business’ for keeping me busy doing this and that, but.. no.. after all, it was just me who didn’t make time for writing.

In 2016, I only published 1 book, Unexpected Love. Unexpected Love was launched at Jogjakarta, my favorite city! I got a chance to met my reader and had a lil chit chat with them. It was fun and memorable!

In february 2016, 1 of my books, 365 ideas of happiness, was listed in top 10 recommended book at 1 of major bookstore chain in Indonesia. Was never expecting it before. Zuper proud!

But still, in term of writing process, it was bad bad bad. I didn’t even update my blog for more than a half year. And of course, launching a new book was only in my imagination. Gosh, I thought I should stop calling myself a writer.

Then something happened..

In the end of 2016, Hipwee.com emailed me and asked me to be there exclusive contributor. I was like… hmm.. writing again? The suddenly I was not only excited, I felt it was like a trueeee reminder for me to write again. It’s a call!

So this year I make a promise to myself that I will write again. *Finger crossed*

January wasn’t bad at all. I updated my blog, I keep writing for hipwee, I also started to write for rockingmama. But the mosttt exciting one is I finished the first editing process for my upcoming book. Woohooooo!

Now I can’t wait for February! Hope it’s gonna be a productive month!

Advertisements

Brownies Pudding Cake

brownie

Gong xi fa cai!

It’s Chinese New Year and of course it’s pouring rain outside. Soooww what’s better than just staying at home and enjoying the weather with family.

Buttttt staying at home won’t be perfect without munching something sweet right? Well, life wont be perfect without munching something! So today I decided to make brownies pudding cake. I have kept the recipe for ages but I don’t really know why I never tried it before. I got it from facebook but I gotta substitute some of the ingredients with what’s available in my kitchen. So this one is my version. Still good tho. Don’t worry! Haha!

This recipe is so easy. The ingredients are nothing but very simple. Seriously when I finished making the batter, even the oven wasn’t hot yet. Yes, it’s that fast!

The brownies was soft and the pudding made it yummier! Would be perfect if you add vanilla ice cream when enjoying it, too bad I didn’t have it in my fridge.

So, here’s how to make it:

Ingredients

Brownies:

  •  1 cup all purpose flour
  •  1/2 cup granulated sugar
  •  1/4 cup cocoa powder
  •  1,5 tea spoon baking power
  •  1/4 cup vegetable oil
  •  3/4 cup milk
  •  1/4 salt

Pudding:

  •  1/3 cup granulated sugar
  •  1/3 cup brown sugar
  •  3 table spoon cocoa powder
  •  1,25 cup boiling water

How to make it

  1. Combine all the brownies ingredients, mix until smooth.
  2. Pour the batter into baking pan.
  3. Mix all the DRY pudding ingredients, sprinkle over the batter (DO NOT MIX with the batter).
  4. Pour slowly the boiling water over the top.
  5. Bake for 40 minutes.

Go give it a try and let me know the result. Good luck!

5 Things To Enjoy at Royal Tulip Gunung Geulis

rtgg

Hello, everyone! I know it’s a lil bit late, but.. Happy new yearrr! Woohoo! 😛

It’s 2017 already, huh? Time does fly so fast. I didn’t even realise that I had not update this blog since april 2016. And of course, when I got to review my 2016, I remembered nothing. So here I am, promising myself to start blogging again. *finger crossed*

Anyway, how’s your holiday? Mine was fun and refreshing! My kids and I went to Royal Tulip Gunung Geulis Golf & Resort couple weeks ago. Well, it’s actually my firstborn’s request. She loveees staying in the hotel every time holiday come. So I was like… hmm ok staycation sounds like a good idea because i still can work at night. Yeah, you read it right. Working on holiday, that’s sooo me. And yes, I did work at night there.

The hotel’s pretty. The view’s beautiful. And the facilities were incredibly satisfying. Here are 5 things you can enjoy there.

1. Swimming Pool

Royal Tulip has 3 swimming pool. Didn’t wanna waste the chance, my kids managed to swim two times while we stay there. Even the rain didn’t stop them. Have I told you that they are like fish! Always happy when seeing water. Me? Not so much. I cannot swim, ladies and gentlemen. So if one day you see me in the middle of (a deep) pool, please, HELP!

2. Kids club

There’s a kids club in one corner of this hotel. Your kid can play with the slide, lego, and many more. It’s also very very clean. But you gotta be careful because one of the slide is, in my opinion, too steep and seems dangerous.

3. Zen roof

I think zen roof it the hottest spot at Royal Tulip. I believe everyone take pictures there (or it’s just me?). The view is breathtaking. I can picture myself standing there for an hour to get my mind clear and relax. No wonder they use this place for doing yoga every weekend.

4. Fire Grill & Bar

I tried this restaurant for dinner. They serve pizza and steak. I ordered Margaritha Pizza (85k) and Quarto Formaggi (110k). All are delicious. My favotire was the quarto formaggi, the cheese was very thick as expected. Super yummy!

5. Outbond for kids

Can’t talk too much about this facility since my kids didnt try it. The flying fox looked so fun, but my firstborn always said that she’s scared of height. Oh, and I really really really want to try to do wall climbing there. Too bad it’s for kids. Wait, I do look like a kid right? I should have tried it! *plak*

Honestly IMO Royal Tulip Gunung Geulis is a lil bit pricey. But the facilities are seriously worth the price. So if you just wanna stay at the hotel to enjoy and explore every single thing the hotel has, Royal Tulip is definitely a good idea. But if you just need “a place to sleep” or you just want to stay at the room, well I guess you can find much much muuuch cheaper hotel with a room as good as Royal Tulip’s.

After all my kids were so happy staying there. I felt relax and refresh when I got home. Holiday well spent my dear!

Perlukah Riset Sebelum Menulis Novel?

riset

Banyak orang berpendapat bahwa dengan menulis cerita fiksi/ novel artinya penulis boleh mengarang bebas tentang segala sesuatu yang ada dalam cerita tersebut. Well, hal itu tidak sepenuhnya benar. Meskipun cerita yang diangkat adalah fiksi, cerita tersebut harus tetap nyata dan masuk akal bagi pembaca. Pembaca tidak perlu percaya cerita itu memang benar terjadi, tapi pembaca perlu percaya bahwa cerita itu bisa terjadi.

Karena itulah, sebelum mulai menulis, sebaiknya kamu melakukan proses riset dulu untuk mengetahui lebih detail hal-hal yang berkaitan dengan cerita agar lebih masuk akal dan sejalan dengan kehidupan nyata. Bila kamu sudah familiar dengan cerita yang akan kamu bangun, mungkin riset yang kamu lakukan tidak akan terlalu rumit. Tapi kalau kamu belum familiar, tentunya kamu harus melakukan riset yang cukup mendalam.

Sebetulnya apa saja sih yang perlu diriset?

1. Karakter

Karakter yang kamu bangun harus benar-benar masuk akal. Karena itu kamu harus memastikan antara umur dan pekerjaan sesuai. Antara pekerjaan dan gaya hidup sesuai. Selain itu, kamu juga bisa meriset bagaimana topik pembicaraan, tempat hang out, atau bahkan cara berpakaian mereka.

Contoh kasus: Kenalan saya pernah berhenti membaca sebuah novel saat menemukan karakter yang diceritakan didefinisikan sebagai dokter jantung sukses dan terkenal se-ibukota dan usianya 28 tahun. Dengan background keluarganya yang kebanyakan dokter, ini tentu sangat mengganggu karena di usia segitu, biasanya dokter jantung belum mencapai kesuksesan terkenal se-ibukota. Beberapa bahkan belum selesai sekolah. Karena itulah, kaitan usia dan posisi dalam pekerjaan akan sangat penting untuk diriset.

2. Lokasi

Lokasi cerita akan membantu pembaca memvisualisai kondisi di sekitar karakter, oleh karena itu kamu harus bisa menggambarkan lokasi dengan baik. Yang bisa kamu riset tentang lokasi antara lain adalah udaranya, arsitektur bangunannya, transportasi yang ada, tipe masyarakatnya, bahkan baunya lho. Hal-hal unik dan identik tentang kota tersebut juga harus kamu perhatikan.

Misalnya bila novel kamu mengambil lokasi di Jakarta, kamu tidak bisa membuat karakter kamu berpindah-pindah tempat terlalu banyak dalam satu hari karena Jakarta adalah kota yang sangat macet, sehingga berpindah lokasi terlalu banyak dalam sehari akan terdengar tidak masuk akal. Apalagi bila lokasi yang disebutkan saling berjauhan.

3. Waktu

Bila cerita yang kamu bangun mengambil waktu saat ini, maka kamu perlu memasukkan tanda-tandanya dalam tulisan. Bisa dengan cara menceritakan lagu yang sedang hits, film yang baru tayang, atau bahkan artis yang sedang populer. Pokoknya, lakukan riset tentang segala hal terbaru.

Tapi kalau cerita kamu mengambil waktu masa lalu, tentu risetnya perlu lebih mendalam. Kamu perlu mencari tahu kebiasaan yang ada pada masa itu, apa saja yang dianggap tabu, apa yang biasa dimakan, cara berpakaian, dan lainnya.

Nah, sekarang kamu sudah tahu apa saja yang perlu diriset. Bagaimana sih sebetulnya riset itu bisa dilakukan?

1. Internet

Saat ini internet adalah tempat paling mudah untuk mencari informasi. Kamu tinggal masukkan kata kunci, lalu semua info akan muncul. Yang perlu kamu ingat adalah, selalu lakukan pengecekan ulang bila mendapat info via online. Ada banyak sekali informasi yang salah dan beredar dengan cepat di internet. Kamu harus cek juga, apakah sumber informasinya cukup terpercaya. Dan jangan lupa untuk cek tanggal untuk memastikan bahwa info yang kamu dapat adalah info paling gres (tanpa revisi dan penemuan baru).

2. Berkunjung langsung ke lokasi

Bila waktu dan biaya memungkinkan, kamu juga bisa riset dengan datang langsung ke lokasi yang ada di novelmu. Bisa sekalian liburan juga kan? Buatlah daftar lokasi yang ingin kamu kunjungi dan setelah tiba di lokasi, berbincanglah dengan warga lokal agar tahu lebih banyak tentang tempat itu. Jangan lupa bawa catatan kecil dan kameramu ya!

3. Cari narasumber

Cara paling mudah dan akurat untuk mendapatkan informasi adalah dengan mencari info dari narasumber. Sebetulnya ada dua cara untuk mendapatkan info dari narasumber. Pertama, dengan mengajukan pertanyaan langsung ke mereka. Kedua, dengan mengikuti kegiatan sehari-hari mereka (misalnya bila ingin riset tentang pekerjaan).

Proses riset sendiri sebetulnya tidak terbatas hanya pada saat sebelum proses menulis. Sering kali di tengah proses menulis, kita akan menemukan hal-hal yang belum kita ketahui dengan pasti. Oleh karena itu, proses riset bisa terus berlangsung selama proses menulis.

Sayangnya riset di tengah proses penulisan bagi sebagian orang akan terasa menganggu mood dan konsentrasi. Kalau kamu merasakan hal yang sama juga, salah satu alternatif yang bisa kamu lakukan agar proses riset tidak mengganggu proses menulis adalah kamu bisa mengumpulkan dulu semua pertanyaan selama masa penulisan. Setelah selesai, baru kamu lakukan reset lagi dan lengkapi “lubang” di tulisanmu. Cara ini akan menghemat waktu kamu dan waktu narasumbermu juga.

Selamat menggali informasi!

Manfaat Membuat Outline

outline

Kalau ditanya tentang apa bagian paling penting sebelum menulis novel, jawaban saya sudah pasti outline! Setiap kali ada yang bertanya tentang tips nulis, jawaban saya pasti ada kata-kata outline-nya. Ya, buat saya, segitu pentingnya bikin outline!

Kalau di postingan sebelumnya saya sudah membahas bagaimana cara bikin outline sebelum mulai nulis novel, kali ini saya mau bahas manfaat dari menulis outline. Semoga dengan tahu manfaatnya, teman-teman yang mau belajar nulis jadi makin semangat ya buat bikin outline.

Berikut ini 5 manfaat membuat outline:

1. Menghindari Writer’s Block

Dengan membuat outline, kamu sudah tahu jalan cerita yang akan kamu bangun dari awal sampai akhirnya. Dengan begini, kamu gak bakal kehabisan ide untuk cerita selanjutnya. Setiap kali bingung mau nulis apa, kamu tinggal lihat lagi outline-mu dan kamu bakal langsung tahu harus mulai nulis tentang apa.

2. Tulisan terarah

Setelah membuat outline, kamu tidak perlu lagi memikirkan keseluruhan cerita. Kamu hanya perlu fokus ke poin/ chapter yang sedang kamu kerjakan. Dengan bagini, tulisanmu akan lebih terarah, gak “muter-muter”, dan pastinya gak membahas terlalu jauh.

3. Efektif

Dengan adanya outline, kamu gak lagi menghabiskan waktu untuk bengong cari ide tulisan di lembar selanjutnya. Gak ada lagi cerita kamu satu jam menghadap word kosong dan masih belum nemu inspirasi. Jadi menulis outline jelas akan menghemat waktu dan menghindari kamu membuang-buang waktu tanpa hasil.

4. Memastikan cerita komplit

Saat menulis cerita, kadang tanpa kita sadar ada hal-hal yang terlewat untuk kita jelaskan. Ini bisa terjadi kalau kita hanya menyimpan semuanya dalam ingatan kita, sehingga kita gagal melihat “lubang” dalam cerita. Fatalnya, “lubang” dalam cerita bisa membuat cerita menjadi tidak masuk akan dan membuat pembaca “ilfeel”. Nah, dengan menulis semua poin sebelum menulis, akan lebih mudah bagi kamu untuk melihat bagian-bagian yang masih kurang dan masih perlu ditambahkan untuk membangun cerita.

5. Acuan untuk calon editormu

Pada akhirnya kamu pasti pengen dong buku kamu diterbitkan penerbit. Nah, jangan lupa untuk menyertakan outline saat mengirim naskah kamu. Dengan adanya outline ini, editor akan mendapat gambaran keseluruhan tentang isi naskah kamu. Siapa tahu calon editormu langsung kepincut saat baca outline-mu.

Sekarang sudah tahu kan apa saja manfaat bikin outline sebelum nulis novel? Jadi jangan pernah lewatkan bagian penting satu ini yah!

Cara Membuat Outline Novel

typewriter-801921_1920

Kalau dengar kata outline, jadi inget pelajaran bahasa Indonesia gak sih? Hihi.. Tapi jangan pusing duluan, bikin outline itu gampang kok!

Pertama-tama, sebetulnya apa sih outline itu?

Outline atau kerangka cerita adalah struktur alur cerita yang akan ditulis. Untuk sebuah novel, outline ini biasanya berisi poin-poin utama yang akan diangkat dalam setiap chapter.

Menurut saya, outline adalah sesuatu yang wajib dibuat sebelum mulai menulis novel karena outline merupakan peta dalam menulis dan outline ini adalah senjata nomor wahid untuk menghalau writer’s block.

Nah, bagaimana sih caranya membuat outline?

Berikut ini langkah-langkahnya:

1. Bagi cerita jadi 3 bagian utama

Tiga bagian utama dalam cerita adalah bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Pada bagian awal, biasanya berisi perkenalan karakter utama, masalah utama yang sudah ada, dan tindakan yang akan dilakukan karakter utama. Bagian tengah berisi setiap detil tindakan si karakter terhadap masalah yang ada. Dan bagian akhir adalah solusi atau konsekuensi dari semua tindakan yang sudah diambil.

Contoh:

Awal : Perkenalan tokoh A. Si A sudah jomblo seumur hidup dan bertekat lebih gigih cari pacar.
Tengah : Si A berjuang cari pacar.
Akhir : Si A dapat pacar.

2. Buat Talking Point

Setelah kamu membagi cerita jadi 3 bagian, saatnya kamu membuat daftar poin-poin yang ingin kamu bahas dari setiap bagiannya. Setiap satu poin akan mewakili satu chapter. Pastikan juga dari satu poin ke poin berikutnya saling berkesinambungan. Ini akan membuat pembaca penasaran dan terus ingin membaca ceritamu.

Contoh:

Awal
I. Perkenalan Tokoh A
II. Tokoh A menemukan kitab cara cepat punya pacar

Tengah
III. Tokoh A mempraktekan saran nomor satu dari kitab barunya: selalu senyum
IV. Tokoh A mempraktekan saran nomor dua dari kitab barunya: rambut klimis
V. Tokoh A mempraktekan saran nomor tiga dari kitab barunya: mandi kembang
VI. Tokoh A tetap gagal dan hampir menyerah
VII. Tokoh A kenalan dengan Mbok Jamu baik hati

Akhir
VIII. Tokoh A jatuh cinta
IX. Tokoh Apunya pacar baru

Kurang lebih itulah contoh outline singkat dari sebuah novel yang akan ditulis. Semakin kompleks masalahnya, semakin panjang juga outline-nya.

3. Tambahkan keterangan (bila diperlukan)

Dari setiap poin yang sudah kamu buat, kamu bisa memberikan keterangan tambahan. Keterangan tambahan ini bisa berupa sub-poin atau poin-poin yang lebih detil. Bisa juga keterangan mengenai hal-hal yang relevan terhadap poin tersebut, misalnya quote, dan lain-lain.

Contoh:

VI. Tokoh A gagal terus dan hampir menyerah
      a. Tokoh A sedih meratapi kesendirian
      b. Tokoh A membakar kitab barunya
      c. Tokoh A tertidur dan mimpi jadi jomblo seumur hidup

Nah, kalau outline-mu sudah jadi, artinya kamu sudah ada bayangan yang jelas tentang cerita yang kamu akan tulis dari awal banget sampai akhir. Kalau sudah begini, tentunya kehabisan ide di tengah proses menulis bisa sangat amat diminimalisir kan? Itulah kenapa saya percaya banget kalau outline ini punya peranan penting untuk menghalau writer’s block.

Pada sebuah outline, setiap poin/ chapter tidak selalu setara. Ada chapter yang memang krusial karena mengandung inti cerita. Ada chapter yang hanya sebagai pelengkap untuk membangun cerita. Bila di tengah proses penulisan nanti ada chapter yang cukup krusial untuk ditambah, tentu kamu tetap boleh menambahkannya. Demikian pula bila kamu menemukan chapter yang bisa dihapus. Tapi jangan lupa untuk update outline yang sebelumnya sudah kamu buat ya karena outline ini bisa jadi gerbang awal untuk menggaet hato editor bila kamu ingin novelmu diterbitkan.

Selamat menulis!

Cara Membangun Karakter dalam Novel

Pada tulisan saya yang sebelumnya, saya telah membahas bagaimana cara menemukan ide cerita yang akan kamu tulis dalam novelmu. Setelah kamu mendapatkan ide cerita yang akan ditulis, saatnya kamu menentukan karakter-karakter yang akan berperan di dalamnya.

Karakter merupakan bagian yang harus dirancang dengan hati-hati dan penuh pemikiran. Hal ini karena karakter yang tepat akan membuat cerita yang kamu bangun menjadi lebih nyata. Selain itu, pendeskripsian karakter yang jelas dan detil juga akan membuat pembaca memiliki ikatan emosional karena merasa mengenal lebih personal karakter yang ada di novel.

Salah satu tanda bahwa karakter dalam suatu novel telah sukses dibentuk dengan baik adalah saat karakter tersebut melekat dalam ingatan pembaca dan dapat digambarkan dengan jelas oleh pembaca. Lebih baik lagi bahkan bila pembaca sampai bisa membayangankan artis mana yang paling tepat untuk memerankan karater tersebut bila novelmu sampai diangkat ke layar lebar.

Dalam satu novel, biasanya akan ada beberapa karakter yang muncul. Yang perlu kamu ingat adalah setiap karakter yang kamu ciptakan harus unik dan berbeda satu dengan lainnya. Karena itulah, di tahap awal pembuatan sebuah novel, sebaiknya kamu membuat daftar karakter yang akan muncul dilengkapi dengan keterangan detail tentang masing-masing karakter.

Detail apa saja sih yang perlu kamu perhatikan dalam membentuk sebuah karakter?

1. Nama

Meskipun terdengar sederhana, tapi nama adalah sesuatu yang justru harus kamu pertimbangkan masak-masak. Nama dari setiap karakter yang muncul harus kamu buat sangat berbeda satu sama lain sehingga pembaca tidak bingung. Salah satu trik yang bisa kamu lakukan adalah dengan menghindari penggunakan huruf depan yang sama dan juga suku kata terakhir yang sama.

Selain itu, nama juga tidak boleh ambigu. Untuk tokok perempuan, gunakan nama perempuan. Begitu pula untuk tokoh laki-laki. Jangan menggunakan nama yang universal. Usahakan saat sebuah nama muncul, pembaca sudah langsung tahu kalau dia adalah seorang perempuan atau laki-laki.

Kalau kamu ingin menonjolkan etnis suatu karakter, nama juga akan berperan penting. Contohnya, nama Ahong akan membuat pembaca tahu kalau karakter tersebut beretnis Tionghoa, nama Siregar menandakan karakter tersebut berdarah Sumatra Utara, dan lain sebagainya.

Untuk mencari ide nama, kamu boleh lho memanfaatkan buku nama bayi. Ada ribuan nama menarik yang bisa kamu pilih dari situ.

2. Pekerjaan dan Umur

Kamu wajib banget menjelaskan tentang status pekerjaan karaktermu. Apakah dia pelajar, pekerja, atau bahkan pengangguran. Di kehidupan nyata semua orang punya status ini, oleh karena itu kalau kamu mau buat ceritamu semakin hidup dan nyata, jangan lewatkan keterangan ini untuk karaktermu.

Bayangkan kalau kamu menciptakan sebuah karakter yang selalu jalan-jalan ke luar negeri tapi kamu tidak pernah menjelaskan apa pekerjaannya. Pembaca pasti akan bertanya-tanya bagaimana caranya si karakter tersebut bisa selalu jalan-jalan ke keluar negeri.

Umur juga tidak kalah penting. Pemberitahuan tentang umur ini akan memudahkan pembaca membentuk visual karakter dalam imajinasi mereka. Yang perlu diingat, umur dan pekerjaan haruslah sejalan, terutama saat kamu menyebutkan jabatan secara spesifik. Jangan sampai umur yang kamu sebutkan terlalu muda untuk jabatan tertentu, karena ini akan membuat ceritamu tidak masuk akal.

3. Aktivitas dan Hobi

Dengan mengetahui umur dan pekerjaan dari karakter yang dibangun, kamu bisa menerka aktivitas dan juga gaya hidupnya. Misalnya untuk karakter berumur 20-an dan bekerja sebagai pegawai perusahaan swasta, nongkrong di cafe bisa jadi salah satu aktivitas rutin mereka. Tapi aktivitas yang sama kemungkinan tidak akan cocok kalau karakter yang  berusia 60 tahun.

Menjelaskan hobi si karakter juga akan menjadi poin tambahan. Dengan menjelaskan hobi, biasanya pembaca dapat semakin menebak gaya hidup dan penampilan dari si karakter tersebut. Bisa kamu coba bayangkan, orang yang hobi naik gunung kemungkinan besar memiliki gaya hidup dan penampilan yang beda dengan orang yang hobi kulineran.

4. Keinginan dan hambatan karakter

Setiap karakter (terutama karakter utama) memiliki tujuan dan keinginan masing-masing dalam novel. Tuliskan tujuan dan keinginan masing-masing tokoh dalam cerita yang kamu akan bangun. Selain itu, ceritakan hambatan yang mereka temu dalam mencapai tujuan mereka. Hambatan inilah yang bisa kamu jadikan konflik dalam cerita kamu.

5. Penampakan Fisik

Saat sebuah karakter muncul untuk pertama kalinya pada novel, hal yang paling mudah dilakukan untuk membentuk visual dalam ingatna pembaca adalah dengan memberi keterangan fisik. Fisik disini meliputi detail wajah, gaya rambut, cara berpakaian, dan bahkan wangi tubuhnya. Jadi jangan lewatkan untuk menambahkan keterangan penampilan fisik yang menonjol dari karakter tersebut.

6. Keunikan

Yang membuat sebuah karakter menarik adalah keunikan yang mereka miliki. Jadi jangan lupa untuk menyertakan keunikan yang mudah dingat pembaca tentang karkter tersebut. Keunikan biasanya seputar kebiasaan-kebiasaan kecilnya yang lucu. Keunikan yang dimiliki karakter bisa kamu ulang beberapa kali dalam tulisan sehingga benar-benar melekat dalam ingatan pembaca.

Contoh:

Tokoh Utama 1
Nama: Vira Anastasia
Umur dan Pekerjaan: 21, penyanyi.
Keinginan: Go international.
Hambatan: Tidak bisa berbahasa inggris.
Fisik: Rambut indah, gigi gingsul, selalu wangi.
Keunikan: Selalu makan kuaci untuk mengurangi demam panggung setiap sebelum tampil/ manggung.

Pada akhirnya, memang tidak semua informasi akan kamu sajikan dalam novelmu. Sisakan bagian-bagian tertentu dimana kamu membiarkan pembacamu membentuk imajinasinya sendiri. Tapi kamu selaku pemilik cerita, pastinya tetap harus mengenal karakter-karakter tersebut seperti kamu mengenal diri kamu sendiri. Hanya dengan inilah kamu dapat menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Selamat berimajinasi!