Perlukah Riset Sebelum Menulis Novel?

riset

Banyak orang berpendapat bahwa dengan menulis cerita fiksi/ novel artinya penulis boleh mengarang bebas tentang segala sesuatu yang ada dalam cerita tersebut. Well, hal itu tidak sepenuhnya benar. Meskipun cerita yang diangkat adalah fiksi, cerita tersebut harus tetap nyata dan masuk akal bagi pembaca. Pembaca tidak perlu percaya cerita itu memang benar terjadi, tapi pembaca perlu percaya bahwa cerita itu bisa terjadi.

Karena itulah, sebelum mulai menulis, sebaiknya kamu melakukan proses riset dulu untuk mengetahui lebih detail hal-hal yang berkaitan dengan cerita agar lebih masuk akal dan sejalan dengan kehidupan nyata. Bila kamu sudah familiar dengan cerita yang akan kamu bangun, mungkin riset yang kamu lakukan tidak akan terlalu rumit. Tapi kalau kamu belum familiar, tentunya kamu harus melakukan riset yang cukup mendalam.

Sebetulnya apa saja sih yang perlu diriset?

1. Karakter

Karakter yang kamu bangun harus benar-benar masuk akal. Karena itu kamu harus memastikan antara umur dan pekerjaan sesuai. Antara pekerjaan dan gaya hidup sesuai. Selain itu, kamu juga bisa meriset bagaimana topik pembicaraan, tempat hang out, atau bahkan cara berpakaian mereka.

Contoh kasus: Kenalan saya pernah berhenti membaca sebuah novel saat menemukan karakter yang diceritakan didefinisikan sebagai dokter jantung sukses dan terkenal se-ibukota dan usianya 28 tahun. Dengan background keluarganya yang kebanyakan dokter, ini tentu sangat mengganggu karena di usia segitu, biasanya dokter jantung belum mencapai kesuksesan terkenal se-ibukota. Beberapa bahkan belum selesai sekolah. Karena itulah, kaitan usia dan posisi dalam pekerjaan akan sangat penting untuk diriset.

2. Lokasi

Lokasi cerita akan membantu pembaca memvisualisai kondisi di sekitar karakter, oleh karena itu kamu harus bisa menggambarkan lokasi dengan baik. Yang bisa kamu riset tentang lokasi antara lain adalah udaranya, arsitektur bangunannya, transportasi yang ada, tipe masyarakatnya, bahkan baunya lho. Hal-hal unik dan identik tentang kota tersebut juga harus kamu perhatikan.

Misalnya bila novel kamu mengambil lokasi di Jakarta, kamu tidak bisa membuat karakter kamu berpindah-pindah tempat terlalu banyak dalam satu hari karena Jakarta adalah kota yang sangat macet, sehingga berpindah lokasi terlalu banyak dalam sehari akan terdengar tidak masuk akal. Apalagi bila lokasi yang disebutkan saling berjauhan.

3. Waktu

Bila cerita yang kamu bangun mengambil waktu saat ini, maka kamu perlu memasukkan tanda-tandanya dalam tulisan. Bisa dengan cara menceritakan lagu yang sedang hits, film yang baru tayang, atau bahkan artis yang sedang populer. Pokoknya, lakukan riset tentang segala hal terbaru.

Tapi kalau cerita kamu mengambil waktu masa lalu, tentu risetnya perlu lebih mendalam. Kamu perlu mencari tahu kebiasaan yang ada pada masa itu, apa saja yang dianggap tabu, apa yang biasa dimakan, cara berpakaian, dan lainnya.

Nah, sekarang kamu sudah tahu apa saja yang perlu diriset. Bagaimana sih sebetulnya riset itu bisa dilakukan?

1. Internet

Saat ini internet adalah tempat paling mudah untuk mencari informasi. Kamu tinggal masukkan kata kunci, lalu semua info akan muncul. Yang perlu kamu ingat adalah, selalu lakukan pengecekan ulang bila mendapat info via online. Ada banyak sekali informasi yang salah dan beredar dengan cepat di internet. Kamu harus cek juga, apakah sumber informasinya cukup terpercaya. Dan jangan lupa untuk cek tanggal untuk memastikan bahwa info yang kamu dapat adalah info paling gres (tanpa revisi dan penemuan baru).

2. Berkunjung langsung ke lokasi

Bila waktu dan biaya memungkinkan, kamu juga bisa riset dengan datang langsung ke lokasi yang ada di novelmu. Bisa sekalian liburan juga kan? Buatlah daftar lokasi yang ingin kamu kunjungi dan setelah tiba di lokasi, berbincanglah dengan warga lokal agar tahu lebih banyak tentang tempat itu. Jangan lupa bawa catatan kecil dan kameramu ya!

3. Cari narasumber

Cara paling mudah dan akurat untuk mendapatkan informasi adalah dengan mencari info dari narasumber. Sebetulnya ada dua cara untuk mendapatkan info dari narasumber. Pertama, dengan mengajukan pertanyaan langsung ke mereka. Kedua, dengan mengikuti kegiatan sehari-hari mereka (misalnya bila ingin riset tentang pekerjaan).

Proses riset sendiri sebetulnya tidak terbatas hanya pada saat sebelum proses menulis. Sering kali di tengah proses menulis, kita akan menemukan hal-hal yang belum kita ketahui dengan pasti. Oleh karena itu, proses riset bisa terus berlangsung selama proses menulis.

Sayangnya riset di tengah proses penulisan bagi sebagian orang akan terasa menganggu mood dan konsentrasi. Kalau kamu merasakan hal yang sama juga, salah satu alternatif yang bisa kamu lakukan agar proses riset tidak mengganggu proses menulis adalah kamu bisa mengumpulkan dulu semua pertanyaan selama masa penulisan. Setelah selesai, baru kamu lakukan reset lagi dan lengkapi “lubang” di tulisanmu. Cara ini akan menghemat waktu kamu dan waktu narasumbermu juga.

Selamat menggali informasi!

Manfaat Membuat Outline

outline

Kalau ditanya tentang apa bagian paling penting sebelum menulis novel, jawaban saya sudah pasti outline! Setiap kali ada yang bertanya tentang tips nulis, jawaban saya pasti ada kata-kata outline-nya. Ya, buat saya, segitu pentingnya bikin outline!

Kalau di postingan sebelumnya saya sudah membahas bagaimana cara bikin outline sebelum mulai nulis novel, kali ini saya mau bahas manfaat dari menulis outline. Semoga dengan tahu manfaatnya, teman-teman yang mau belajar nulis jadi makin semangat ya buat bikin outline.

Berikut ini 5 manfaat membuat outline:

1. Menghindari Writer’s Block

Dengan membuat outline, kamu sudah tahu jalan cerita yang akan kamu bangun dari awal sampai akhirnya. Dengan begini, kamu gak bakal kehabisan ide untuk cerita selanjutnya. Setiap kali bingung mau nulis apa, kamu tinggal lihat lagi outline-mu dan kamu bakal langsung tahu harus mulai nulis tentang apa.

2. Tulisan terarah

Setelah membuat outline, kamu tidak perlu lagi memikirkan keseluruhan cerita. Kamu hanya perlu fokus ke poin/ chapter yang sedang kamu kerjakan. Dengan bagini, tulisanmu akan lebih terarah, gak “muter-muter”, dan pastinya gak membahas terlalu jauh.

3. Efektif

Dengan adanya outline, kamu gak lagi menghabiskan waktu untuk bengong cari ide tulisan di lembar selanjutnya. Gak ada lagi cerita kamu satu jam menghadap word kosong dan masih belum nemu inspirasi. Jadi menulis outline jelas akan menghemat waktu dan menghindari kamu membuang-buang waktu tanpa hasil.

4. Memastikan cerita komplit

Saat menulis cerita, kadang tanpa kita sadar ada hal-hal yang terlewat untuk kita jelaskan. Ini bisa terjadi kalau kita hanya menyimpan semuanya dalam ingatan kita, sehingga kita gagal melihat “lubang” dalam cerita. Fatalnya, “lubang” dalam cerita bisa membuat cerita menjadi tidak masuk akan dan membuat pembaca “ilfeel”. Nah, dengan menulis semua poin sebelum menulis, akan lebih mudah bagi kamu untuk melihat bagian-bagian yang masih kurang dan masih perlu ditambahkan untuk membangun cerita.

5. Acuan untuk calon editormu

Pada akhirnya kamu pasti pengen dong buku kamu diterbitkan penerbit. Nah, jangan lupa untuk menyertakan outline saat mengirim naskah kamu. Dengan adanya outline ini, editor akan mendapat gambaran keseluruhan tentang isi naskah kamu. Siapa tahu calon editormu langsung kepincut saat baca outline-mu.

Sekarang sudah tahu kan apa saja manfaat bikin outline sebelum nulis novel? Jadi jangan pernah lewatkan bagian penting satu ini yah!

Cara Membuat Outline Novel

typewriter-801921_1920

Kalau dengar kata outline, jadi inget pelajaran bahasa Indonesia gak sih? Hihi.. Tapi jangan pusing duluan, bikin outline itu gampang kok!

Pertama-tama, sebetulnya apa sih outline itu?

Outline atau kerangka cerita adalah struktur alur cerita yang akan ditulis. Untuk sebuah novel, outline ini biasanya berisi poin-poin utama yang akan diangkat dalam setiap chapter.

Menurut saya, outline adalah sesuatu yang wajib dibuat sebelum mulai menulis novel karena outline merupakan peta dalam menulis dan outline ini adalah senjata nomor wahid untuk menghalau writer’s block.

Nah, bagaimana sih caranya membuat outline?

Berikut ini langkah-langkahnya:

1. Bagi cerita jadi 3 bagian utama

Tiga bagian utama dalam cerita adalah bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Pada bagian awal, biasanya berisi perkenalan karakter utama, masalah utama yang sudah ada, dan tindakan yang akan dilakukan karakter utama. Bagian tengah berisi setiap detil tindakan si karakter terhadap masalah yang ada. Dan bagian akhir adalah solusi atau konsekuensi dari semua tindakan yang sudah diambil.

Contoh:

Awal : Perkenalan tokoh A. Si A sudah jomblo seumur hidup dan bertekat lebih gigih cari pacar.
Tengah : Si A berjuang cari pacar.
Akhir : Si A dapat pacar.

2. Buat Talking Point

Setelah kamu membagi cerita jadi 3 bagian, saatnya kamu membuat daftar poin-poin yang ingin kamu bahas dari setiap bagiannya. Setiap satu poin akan mewakili satu chapter. Pastikan juga dari satu poin ke poin berikutnya saling berkesinambungan. Ini akan membuat pembaca penasaran dan terus ingin membaca ceritamu.

Contoh:

Awal
I. Perkenalan Tokoh A
II. Tokoh A menemukan kitab cara cepat punya pacar

Tengah
III. Tokoh A mempraktekan saran nomor satu dari kitab barunya: selalu senyum
IV. Tokoh A mempraktekan saran nomor dua dari kitab barunya: rambut klimis
V. Tokoh A mempraktekan saran nomor tiga dari kitab barunya: mandi kembang
VI. Tokoh A tetap gagal dan hampir menyerah
VII. Tokoh A kenalan dengan Mbok Jamu baik hati

Akhir
VIII. Tokoh A jatuh cinta
IX. Tokoh Apunya pacar baru

Kurang lebih itulah contoh outline singkat dari sebuah novel yang akan ditulis. Semakin kompleks masalahnya, semakin panjang juga outline-nya.

3. Tambahkan keterangan (bila diperlukan)

Dari setiap poin yang sudah kamu buat, kamu bisa memberikan keterangan tambahan. Keterangan tambahan ini bisa berupa sub-poin atau poin-poin yang lebih detil. Bisa juga keterangan mengenai hal-hal yang relevan terhadap poin tersebut, misalnya quote, dan lain-lain.

Contoh:

VI. Tokoh A gagal terus dan hampir menyerah
      a. Tokoh A sedih meratapi kesendirian
      b. Tokoh A membakar kitab barunya
      c. Tokoh A tertidur dan mimpi jadi jomblo seumur hidup

Nah, kalau outline-mu sudah jadi, artinya kamu sudah ada bayangan yang jelas tentang cerita yang kamu akan tulis dari awal banget sampai akhir. Kalau sudah begini, tentunya kehabisan ide di tengah proses menulis bisa sangat amat diminimalisir kan? Itulah kenapa saya percaya banget kalau outline ini punya peranan penting untuk menghalau writer’s block.

Pada sebuah outline, setiap poin/ chapter tidak selalu setara. Ada chapter yang memang krusial karena mengandung inti cerita. Ada chapter yang hanya sebagai pelengkap untuk membangun cerita. Bila di tengah proses penulisan nanti ada chapter yang cukup krusial untuk ditambah, tentu kamu tetap boleh menambahkannya. Demikian pula bila kamu menemukan chapter yang bisa dihapus. Tapi jangan lupa untuk update outline yang sebelumnya sudah kamu buat ya karena outline ini bisa jadi gerbang awal untuk menggaet hato editor bila kamu ingin novelmu diterbitkan.

Selamat menulis!

Cara Membangun Karakter dalam Novel

Pada tulisan saya yang sebelumnya, saya telah membahas bagaimana cara menemukan ide cerita yang akan kamu tulis dalam novelmu. Setelah kamu mendapatkan ide cerita yang akan ditulis, saatnya kamu menentukan karakter-karakter yang akan berperan di dalamnya.

Karakter merupakan bagian yang harus dirancang dengan hati-hati dan penuh pemikiran. Hal ini karena karakter yang tepat akan membuat cerita yang kamu bangun menjadi lebih nyata. Selain itu, pendeskripsian karakter yang jelas dan detil juga akan membuat pembaca memiliki ikatan emosional karena merasa mengenal lebih personal karakter yang ada di novel.

Salah satu tanda bahwa karakter dalam suatu novel telah sukses dibentuk dengan baik adalah saat karakter tersebut melekat dalam ingatan pembaca dan dapat digambarkan dengan jelas oleh pembaca. Lebih baik lagi bahkan bila pembaca sampai bisa membayangankan artis mana yang paling tepat untuk memerankan karater tersebut bila novelmu sampai diangkat ke layar lebar.

Dalam satu novel, biasanya akan ada beberapa karakter yang muncul. Yang perlu kamu ingat adalah setiap karakter yang kamu ciptakan harus unik dan berbeda satu dengan lainnya. Karena itulah, di tahap awal pembuatan sebuah novel, sebaiknya kamu membuat daftar karakter yang akan muncul dilengkapi dengan keterangan detail tentang masing-masing karakter.

Detail apa saja sih yang perlu kamu perhatikan dalam membentuk sebuah karakter?

1. Nama

Meskipun terdengar sederhana, tapi nama adalah sesuatu yang justru harus kamu pertimbangkan masak-masak. Nama dari setiap karakter yang muncul harus kamu buat sangat berbeda satu sama lain sehingga pembaca tidak bingung. Salah satu trik yang bisa kamu lakukan adalah dengan menghindari penggunakan huruf depan yang sama dan juga suku kata terakhir yang sama.

Selain itu, nama juga tidak boleh ambigu. Untuk tokok perempuan, gunakan nama perempuan. Begitu pula untuk tokoh laki-laki. Jangan menggunakan nama yang universal. Usahakan saat sebuah nama muncul, pembaca sudah langsung tahu kalau dia adalah seorang perempuan atau laki-laki.

Kalau kamu ingin menonjolkan etnis suatu karakter, nama juga akan berperan penting. Contohnya, nama Ahong akan membuat pembaca tahu kalau karakter tersebut beretnis Tionghoa, nama Siregar menandakan karakter tersebut berdarah Sumatra Utara, dan lain sebagainya.

Untuk mencari ide nama, kamu boleh lho memanfaatkan buku nama bayi. Ada ribuan nama menarik yang bisa kamu pilih dari situ.

2. Pekerjaan dan Umur

Kamu wajib banget menjelaskan tentang status pekerjaan karaktermu. Apakah dia pelajar, pekerja, atau bahkan pengangguran. Di kehidupan nyata semua orang punya status ini, oleh karena itu kalau kamu mau buat ceritamu semakin hidup dan nyata, jangan lewatkan keterangan ini untuk karaktermu.

Bayangkan kalau kamu menciptakan sebuah karakter yang selalu jalan-jalan ke luar negeri tapi kamu tidak pernah menjelaskan apa pekerjaannya. Pembaca pasti akan bertanya-tanya bagaimana caranya si karakter tersebut bisa selalu jalan-jalan ke keluar negeri.

Umur juga tidak kalah penting. Pemberitahuan tentang umur ini akan memudahkan pembaca membentuk visual karakter dalam imajinasi mereka. Yang perlu diingat, umur dan pekerjaan haruslah sejalan, terutama saat kamu menyebutkan jabatan secara spesifik. Jangan sampai umur yang kamu sebutkan terlalu muda untuk jabatan tertentu, karena ini akan membuat ceritamu tidak masuk akal.

3. Aktivitas dan Hobi

Dengan mengetahui umur dan pekerjaan dari karakter yang dibangun, kamu bisa menerka aktivitas dan juga gaya hidupnya. Misalnya untuk karakter berumur 20-an dan bekerja sebagai pegawai perusahaan swasta, nongkrong di cafe bisa jadi salah satu aktivitas rutin mereka. Tapi aktivitas yang sama kemungkinan tidak akan cocok kalau karakter yang  berusia 60 tahun.

Menjelaskan hobi si karakter juga akan menjadi poin tambahan. Dengan menjelaskan hobi, biasanya pembaca dapat semakin menebak gaya hidup dan penampilan dari si karakter tersebut. Bisa kamu coba bayangkan, orang yang hobi naik gunung kemungkinan besar memiliki gaya hidup dan penampilan yang beda dengan orang yang hobi kulineran.

4. Keinginan dan hambatan karakter

Setiap karakter (terutama karakter utama) memiliki tujuan dan keinginan masing-masing dalam novel. Tuliskan tujuan dan keinginan masing-masing tokoh dalam cerita yang kamu akan bangun. Selain itu, ceritakan hambatan yang mereka temu dalam mencapai tujuan mereka. Hambatan inilah yang bisa kamu jadikan konflik dalam cerita kamu.

5. Penampakan Fisik

Saat sebuah karakter muncul untuk pertama kalinya pada novel, hal yang paling mudah dilakukan untuk membentuk visual dalam ingatna pembaca adalah dengan memberi keterangan fisik. Fisik disini meliputi detail wajah, gaya rambut, cara berpakaian, dan bahkan wangi tubuhnya. Jadi jangan lewatkan untuk menambahkan keterangan penampilan fisik yang menonjol dari karakter tersebut.

6. Keunikan

Yang membuat sebuah karakter menarik adalah keunikan yang mereka miliki. Jadi jangan lupa untuk menyertakan keunikan yang mudah dingat pembaca tentang karkter tersebut. Keunikan biasanya seputar kebiasaan-kebiasaan kecilnya yang lucu. Keunikan yang dimiliki karakter bisa kamu ulang beberapa kali dalam tulisan sehingga benar-benar melekat dalam ingatan pembaca.

Contoh:

Tokoh Utama 1
Nama: Vira Anastasia
Umur dan Pekerjaan: 21, penyanyi.
Keinginan: Go international.
Hambatan: Tidak bisa berbahasa inggris.
Fisik: Rambut indah, gigi gingsul, selalu wangi.
Keunikan: Selalu makan kuaci untuk mengurangi demam panggung setiap sebelum tampil/ manggung.

Pada akhirnya, memang tidak semua informasi akan kamu sajikan dalam novelmu. Sisakan bagian-bagian tertentu dimana kamu membiarkan pembacamu membentuk imajinasinya sendiri. Tapi kamu selaku pemilik cerita, pastinya tetap harus mengenal karakter-karakter tersebut seperti kamu mengenal diri kamu sendiri. Hanya dengan inilah kamu dapat menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Selamat berimajinasi!

Cara Membangun Cerita Dalam Novel

Salah satu hal paling penting dalam membuat novel adalah menentukan cerita yang akan diangkat. Kenapa saya bilang paling penting? Karena sesungguhnya cerita adalah jiwa dalam sebuah novel.

Tulisan saya kali ini akan membahas langkah demi langkah cara membangun cerita dalam sebuah novel fiksi.

1. Menentukan tema cerita

Sudah beberapa kali orang datang ke saya dan berkata bahwa mereka ingin sekali menjadi penulis, tapi bingung mau cerita atau menulis tentang apa. Apa kamu juga mengalami kebingungan yang sama?

Sebetulnya solusinya gampang aja. Setiap orang punya hal-hal yang menarik perhatiannya masing-masing. Yang tertarik dengan kehidupan urban, kemungkinan akan suka novel-novel metropop. Yang selalu penasaran dengan kehidupan luar angkasa, mungkin bakal suka baca buku fiksi sains. Kalau yang suka dengar cerita horor, pasti akan memilih buku-buku dengan tema hantu.

Tanya ke diri kamu sendiri, kamu paling tertarik dengan cerita seperti apa. Setelah kamu menemukan jawabannya, jadikan itu sebagai tema ceritamu. Menulis cerita tentang sesuatu yang selalu menarik perhatianmu tentunya akan lebih mudah dan menyenangkan.

2. Cari Inspirasi

Setelah mendapatkan tema cerita, berarti saatnya mencari inspirasi untuk membuat sebuah cerita yang ingin kamu bangun. Pertanyaannya adalah sebetulnya inspirasi ini bisa dicari dimana ya?

Inspirasi bisa datang darimana saja. Bisa dari cerita masa muda nenek kamu, bisa dari obrolan orang di sampingmu saat duduk di bis kota, bisa juga dari cerita hantu yang pernah kamu dengar saat kecil dulu, dan bisa juga lho dari pengalaman pribadi. Yang perlu kamu lakukan untuk mendapatkan inspirasi adalah membuka mata dan telinga lebar-lebar atau bahkan mengingat kembali kenangan atau cerita yang pernah mampir di masa lalu kamu.

3. Tulis Cerita Dalam Satu Kalimat

Sudah dapet inspirasi cerita yang bakal kamu tulis? Selamat! Setelah kamu tahu cerita yang ingin kamu angkat, coba tuliskan inti cerita tersebut dalam satu kalimat.

Misalnya: Kehidupan wanita urban yang berpisah dengan kekasihnya saat dia sedang sibuk mengejar mimpinya.

Kalimat singkat ini tentunya nantinya akan dikembangkan. Tapi selain untuk dikembangkan, sebetulnya merangkum cerita dalam satu kalimat juga bakal kamu butuhkan untuk keperluan promosi kelak. Satu kalimat ini akan memberi calon pembacamu gambaran tentang cerita dalam novelmu.

4. Kembangkan Menjadi Satu Paragraf

Sudah jadi kalimatnya? Sekarang kembangkan dalam satu paragraf yang berisi rangkuman cerita. Tidak perlu detail. Yang penting, cukup menggambarkan akar permasalahan, inti cerita, dan juga ending dari cerita.

Misalnya: Seorang wanita urban berpisah dengan kekasihnya saat dia sedang sibuk mengejar mimpinya. Dia berjuang keras untuk bangkit dan mempertahankan mimpinya agak tidak ikut hancur. Perjuangannya justru mengantarkannya pada pertemuannya dengan jodoh barunya.

Paragraf inilah yang akan kamu jadikan acuan untuk dikembangkan menjadi sebuah outline. Tentang outline ini akan saya bahan next time ya.

Dengan sudah memiliki gambaran cerita dari awal sampai akhir, cerita kamu gak akan “lari” kemana-mana. Dan setiap kamu mengalami kebuntuan, kamu sudah tahu persis cerita yang kamu bikin mau dibawa kemana. Ini tentunya akan membantumu lebih mudah menghalau kebuntuan itu.

Yang perlu kamu ingat dalam menulis sebuah cerita fiksi adalah cerita harus masuk akal. Yap, menulis cerita fiksi terkadang justru harus lebih masuk akal daripada kehidupan nyata. Itulah tantangannya. Kalau fiksi yang kamu angkat adalah tentang makhluk selain manusia, kamu harus tetap memberi batasan yang jelas tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan makhluk itu.

Keharusan masuk akal ini juga berlaku saat menentukan ending cerita. Jangan pernah memaksakan happy ending dan jangan pernah mengeluarkan tokoh yang tiba-tiba muncul di akhir cerita untuk menyelesaikan masalah. Intinya, cari ending yang kemungkinan akan terjadi di kehidupan yang sebenarnya, bukan ending instan.

Satu lagi saran dari saya, tidak perlu terlalu sibuk mencari cerita original yang belum pernah diangkat sama sekali. Dunia ini sudah ada ribuan tahun, hampir semua cerita sudah pernah diangkat. Yang menjadikan sebuah novel itu original bukanlah inti dari ceritanya, tapi cara menyampaikan ceritanya. Karena saya percaya, setiap penulis punya gayanya sendiri. Ide cerita yang sama persis pun akan jadi berbeda bila ditulis oleh dua orang penulis yang beda.

Selamat menulis fiksi!

Tips Menyelesaikan Tulisan

Sering banget ada orang cerita ke saya kalau mereka pengen jadi penulis. Tapi biasanya ada satu masalah yang sering banget dialami, yaitu mereka tidak berhasil menyelesaikan tulisan mereka sampai selesai, alias berhenti di tengah jalan. Alasannya macem-macem. Ada yang tiba-tiba kehabisan ide untuk melanjutkan tulisan, ada yang mood nulis mendadak hilang, dan lain-lain. Sounds familiar?

Tapi jangan sedih, saya punya beberapa tips untuk menangkal segala masalah itu. Berikut ini hal-hal yang bisa coba kamu lakukan supaya tulisan kamu bisa selesai sampai tamat:

  1. Bikin outline

Saya selalu, selalu, dan selalu menekankan betapa pentingnya bikin outline atau kerangka cerita. Dengan adanya outline ini, kamu sudah punya gambaran cerita dari awal sampai akhir. Dengan begini, cerita kamu gak akan lari kemana-mana tanpa ujung dan pastinya ini akan menghindari kamu dari kehabisan ide di tengah jalan (lah wong jalan ceritanya sudah komplit kok!).

2. Bikin Target

Ada 2 target yang harus dipenuhi. Pertama, target kapan tulisan secara keseluruhan harus selesai atau biasa disebut deadline tulisan (misalnya 2 bulan). Kedua, target yang lebih kecil yaitu target berapa lama waktu untuk menyelesaikan satu chapter tulisan. Kalau saya pribadi biasanya bikin target 1 chapter harus beres dalam 1-2 hari, plus 1 hari lagi untuk review dan editing chapter tersebut. Jadi dalam seminggu, harus bisa menghasilkan 3 chapter. It’s ok kalau kamu merasa tulisan kamu di satu chapter tertentu belum cukup bagus, just move forward. Jangan sampai ini bikin tulisan kamu gak maju-maju. Nanti setelah tulisan secara keseluruhan kelar, kamu bisa lakukan editing lagi kok.

3. Bikin reward

Kalau dapet reward bisa bikin kamu semangat, boleh banget lho diterapkan saat proses menulis. Misalnya kalau dalam 2 bulan berhasil selesai 1 buku, kamu boleh beli jam tangan yang lagi kamu incar. Atau kalau 1 minggu penuh berhasil konsisten nulis, kamu boleh traktir diri kamu segelas kopi di starbucks plus espresso browniesnya.

4. It’s ok to have a break, but..

Kadang saat tengah-tengah nulis, kita mengalami masa-masa jenuh. Otak rasanya penat sampai-sampai gak tahu harus nulis apa. Kalau sudah mentok banget begini, gapapa kok break dulu, TAPI jangan kelamaan ya. Kamu bisa refreshing sejenak dengan nonton ke bioskop, nongkrong sama temen-temen, baca buku, dll. Sediakan waktu sehari atau dua hari supaya kamu fresh lagi, setelah itu segera balik lagi ke tulisan kamu. Jangan sampe kelamaan ya karena kalau break-nya kelamaan, biasanya jadi males lagi untuk mulai nulis.

5. Have a reading buddy

Saat kamu mulai project menulis, ada baiknya kamu cerita ke teman atau sahabat. Jadikan orang-orang terdekatmu sebagai bagian dari kesuksesan tulisanmu. Kamu bisa menjadikan mereka sebagai reading buddy atau orang yang pertama baca tulisan kamu. Dengan begini, kamu bakal dapet saran dan kritik dari mareka. Selain itu, saat kamu telat kasih chapter terbaru, bakal ada orang yang terus nagih-nagih kamu untuk segera menyelesaikan tulisanmu. Jadi makin semangat kan?

Nah, 5 poin itu yang selama ini sering saya praktekan untuk menyelesaikan buku-buku saya. Silakan dicoba ya, kali-kali ampuh buat kalian juga. Kalau punya tips and tricks tambahan, boleh lho nambahin di kolom komentar. Atau kalau ada pertanyaanpun boleh ditulis disitu yaahh..

Pizza Pastry Puff

Haihai, sudah agak lama ya gak share resep di blog? Sebetulnya sih saya masih sering eksperimen bikin macem-macem, tapi belakangan ini seringan gagalnya. Hikss sedih.

Tapi untuk resep kali ini sakses kok, sodara-sodara! Jadi mari bagi-bagi resep lagi. Ini resepnya hasil kreasi sendiri lohhh, lagi-lagi sekalian mempraktekkan poin ‘make your own recipe’ dari buku 365 Ideas of Happiness.

IMG_7984

Kali ini saya bikin Pizza Pastry Puff. Inspirasinya dari kue danish yang suka saya beli di carrefour. Kebetulan di rumah lagi punya puff pastry. Caranya simpel bgt (soalnya ngarang sendiri jadi gak mampu bikin resep ribet2, hahaha).

Bahan:
1 lembar Puff Pastry
1 sdm Saos tomat
50 gr Keju cheddar Parut
25 gr Keju mozarella Parut
2 Sosis

Cara:
1. Potong sosis tipis-tipis, matangkan sesuai petunjuk.
2. Potong lembaran puff pastry dengan ukuran sekitar 1,5 cm x 12 cm
3. Oleskan saos tomat di atas puff pastry
4. Taburi keju cheddar
5. Taburi sosis
6. Gulung setiap lembar pastry.
7. Taburi keju mozarella diatasnya. Pindahkan ke loyang tahan panas.
8. Panggang 30 menit dengan suhu 180 derajat.

Yuuummm.. Tinggal dimakan pake saos sambel deh. Ashya pun suka banget, sampe minta bawain bekel ini ke sekolah.

Kalo untuk bekel sekolah Ashya, saya cukup melakukan sampe proses nomor 7 sehari sebelumnya, lalu simpan di kulkas. Besok paginya tinggal di panggang deh (jangan lupa panaskan oven dulu dan biarkan pastry berada di suhu ruangan minimal 15 menit ya). Praktis bgt kan?

Lembaran Puff Pastry ini recommended deh untuk selalu ada di kulkas. Bikin makanannya bisa bervariasi bgt, manis maupun asin. Resepnya jg banyak yg sedernaha. Buat saya pribadi, puff pastry ini membantu banget untuk bikin bekal sekolah yang variatif untuk anak.

Selamat mencoba ya!