Cara Membangun Cerita Dalam Novel

Salah satu hal paling penting dalam membuat novel adalah menentukan cerita yang akan diangkat. Kenapa saya bilang paling penting? Karena sesungguhnya cerita adalah jiwa dalam sebuah novel.

Tulisan saya kali ini akan membahas langkah demi langkah cara membangun cerita dalam sebuah novel fiksi.

1. Menentukan tema cerita

Sudah beberapa kali orang datang ke saya dan berkata bahwa mereka ingin sekali menjadi penulis, tapi bingung mau cerita atau menulis tentang apa. Apa kamu juga mengalami kebingungan yang sama?

Sebetulnya solusinya gampang aja. Setiap orang punya hal-hal yang menarik perhatiannya masing-masing. Yang tertarik dengan kehidupan urban, kemungkinan akan suka novel-novel metropop. Yang selalu penasaran dengan kehidupan luar angkasa, mungkin bakal suka baca buku fiksi sains. Kalau yang suka dengar cerita horor, pasti akan memilih buku-buku dengan tema hantu.

Tanya ke diri kamu sendiri, kamu paling tertarik dengan cerita seperti apa. Setelah kamu menemukan jawabannya, jadikan itu sebagai tema ceritamu. Menulis cerita tentang sesuatu yang selalu menarik perhatianmu tentunya akan lebih mudah dan menyenangkan.

2. Cari Inspirasi

Setelah mendapatkan tema cerita, berarti saatnya mencari inspirasi untuk membuat sebuah cerita yang ingin kamu bangun. Pertanyaannya adalah sebetulnya inspirasi ini bisa dicari dimana ya?

Inspirasi bisa datang darimana saja. Bisa dari cerita masa muda nenek kamu, bisa dari obrolan orang di sampingmu saat duduk di bis kota, bisa juga dari cerita hantu yang pernah kamu dengar saat kecil dulu, dan bisa juga lho dari pengalaman pribadi. Yang perlu kamu lakukan untuk mendapatkan inspirasi adalah membuka mata dan telinga lebar-lebar atau bahkan mengingat kembali kenangan atau cerita yang pernah mampir di masa lalu kamu.

3. Tulis Cerita Dalam Satu Kalimat

Sudah dapet inspirasi cerita yang bakal kamu tulis? Selamat! Setelah kamu tahu cerita yang ingin kamu angkat, coba tuliskan inti cerita tersebut dalam satu kalimat.

Misalnya: Kehidupan wanita urban yang berpisah dengan kekasihnya saat dia sedang sibuk mengejar mimpinya.

Kalimat singkat ini tentunya nantinya akan dikembangkan. Tapi selain untuk dikembangkan, sebetulnya merangkum cerita dalam satu kalimat juga bakal kamu butuhkan untuk keperluan promosi kelak. Satu kalimat ini akan memberi calon pembacamu gambaran tentang cerita dalam novelmu.

4. Kembangkan Menjadi Satu Paragraf

Sudah jadi kalimatnya? Sekarang kembangkan dalam satu paragraf yang berisi rangkuman cerita. Tidak perlu detail. Yang penting, cukup menggambarkan akar permasalahan, inti cerita, dan juga ending dari cerita.

Misalnya: Seorang wanita urban berpisah dengan kekasihnya saat dia sedang sibuk mengejar mimpinya. Dia berjuang keras untuk bangkit dan mempertahankan mimpinya agak tidak ikut hancur. Perjuangannya justru mengantarkannya pada pertemuannya dengan jodoh barunya.

Paragraf inilah yang akan kamu jadikan acuan untuk dikembangkan menjadi sebuah outline. Tentang outline ini akan saya bahan next time ya.

Dengan sudah memiliki gambaran cerita dari awal sampai akhir, cerita kamu gak akan “lari” kemana-mana. Dan setiap kamu mengalami kebuntuan, kamu sudah tahu persis cerita yang kamu bikin mau dibawa kemana. Ini tentunya akan membantumu lebih mudah menghalau kebuntuan itu.

Yang perlu kamu ingat dalam menulis sebuah cerita fiksi adalah cerita harus masuk akal. Yap, menulis cerita fiksi terkadang justru harus lebih masuk akal daripada kehidupan nyata. Itulah tantangannya. Kalau fiksi yang kamu angkat adalah tentang makhluk selain manusia, kamu harus tetap memberi batasan yang jelas tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan makhluk itu.

Keharusan masuk akal ini juga berlaku saat menentukan ending cerita. Jangan pernah memaksakan happy ending dan jangan pernah mengeluarkan tokoh yang tiba-tiba muncul di akhir cerita untuk menyelesaikan masalah. Intinya, cari ending yang kemungkinan akan terjadi di kehidupan yang sebenarnya, bukan ending instan.

Satu lagi saran dari saya, tidak perlu terlalu sibuk mencari cerita original yang belum pernah diangkat sama sekali. Dunia ini sudah ada ribuan tahun, hampir semua cerita sudah pernah diangkat. Yang menjadikan sebuah novel itu original bukanlah inti dari ceritanya, tapi cara menyampaikan ceritanya. Karena saya percaya, setiap penulis punya gayanya sendiri. Ide cerita yang sama persis pun akan jadi berbeda bila ditulis oleh dua orang penulis yang beda.

Selamat menulis fiksi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s