Perlukah Riset Sebelum Menulis Novel?

riset

Banyak orang berpendapat bahwa dengan menulis cerita fiksi/ novel artinya penulis boleh mengarang bebas tentang segala sesuatu yang ada dalam cerita tersebut. Well, hal itu tidak sepenuhnya benar. Meskipun cerita yang diangkat adalah fiksi, cerita tersebut harus tetap nyata dan masuk akal bagi pembaca. Pembaca tidak perlu percaya cerita itu memang benar terjadi, tapi pembaca perlu percaya bahwa cerita itu bisa terjadi.

Karena itulah, sebelum mulai menulis, sebaiknya kamu melakukan proses riset dulu untuk mengetahui lebih detail hal-hal yang berkaitan dengan cerita agar lebih masuk akal dan sejalan dengan kehidupan nyata. Bila kamu sudah familiar dengan cerita yang akan kamu bangun, mungkin riset yang kamu lakukan tidak akan terlalu rumit. Tapi kalau kamu belum familiar, tentunya kamu harus melakukan riset yang cukup mendalam.

Sebetulnya apa saja sih yang perlu diriset?

1. Karakter

Karakter yang kamu bangun harus benar-benar masuk akal. Karena itu kamu harus memastikan antara umur dan pekerjaan sesuai. Antara pekerjaan dan gaya hidup sesuai. Selain itu, kamu juga bisa meriset bagaimana topik pembicaraan, tempat hang out, atau bahkan cara berpakaian mereka.

Contoh kasus: Kenalan saya pernah berhenti membaca sebuah novel saat menemukan karakter yang diceritakan didefinisikan sebagai dokter jantung sukses dan terkenal se-ibukota dan usianya 28 tahun. Dengan background keluarganya yang kebanyakan dokter, ini tentu sangat mengganggu karena di usia segitu, biasanya dokter jantung belum mencapai kesuksesan terkenal se-ibukota. Beberapa bahkan belum selesai sekolah. Karena itulah, kaitan usia dan posisi dalam pekerjaan akan sangat penting untuk diriset.

2. Lokasi

Lokasi cerita akan membantu pembaca memvisualisai kondisi di sekitar karakter, oleh karena itu kamu harus bisa menggambarkan lokasi dengan baik. Yang bisa kamu riset tentang lokasi antara lain adalah udaranya, arsitektur bangunannya, transportasi yang ada, tipe masyarakatnya, bahkan baunya lho. Hal-hal unik dan identik tentang kota tersebut juga harus kamu perhatikan.

Misalnya bila novel kamu mengambil lokasi di Jakarta, kamu tidak bisa membuat karakter kamu berpindah-pindah tempat terlalu banyak dalam satu hari karena Jakarta adalah kota yang sangat macet, sehingga berpindah lokasi terlalu banyak dalam sehari akan terdengar tidak masuk akal. Apalagi bila lokasi yang disebutkan saling berjauhan.

3. Waktu

Bila cerita yang kamu bangun mengambil waktu saat ini, maka kamu perlu memasukkan tanda-tandanya dalam tulisan. Bisa dengan cara menceritakan lagu yang sedang hits, film yang baru tayang, atau bahkan artis yang sedang populer. Pokoknya, lakukan riset tentang segala hal terbaru.

Tapi kalau cerita kamu mengambil waktu masa lalu, tentu risetnya perlu lebih mendalam. Kamu perlu mencari tahu kebiasaan yang ada pada masa itu, apa saja yang dianggap tabu, apa yang biasa dimakan, cara berpakaian, dan lainnya.

Nah, sekarang kamu sudah tahu apa saja yang perlu diriset. Bagaimana sih sebetulnya riset itu bisa dilakukan?

1. Internet

Saat ini internet adalah tempat paling mudah untuk mencari informasi. Kamu tinggal masukkan kata kunci, lalu semua info akan muncul. Yang perlu kamu ingat adalah, selalu lakukan pengecekan ulang bila mendapat info via online. Ada banyak sekali informasi yang salah dan beredar dengan cepat di internet. Kamu harus cek juga, apakah sumber informasinya cukup terpercaya. Dan jangan lupa untuk cek tanggal untuk memastikan bahwa info yang kamu dapat adalah info paling gres (tanpa revisi dan penemuan baru).

2. Berkunjung langsung ke lokasi

Bila waktu dan biaya memungkinkan, kamu juga bisa riset dengan datang langsung ke lokasi yang ada di novelmu. Bisa sekalian liburan juga kan? Buatlah daftar lokasi yang ingin kamu kunjungi dan setelah tiba di lokasi, berbincanglah dengan warga lokal agar tahu lebih banyak tentang tempat itu. Jangan lupa bawa catatan kecil dan kameramu ya!

3. Cari narasumber

Cara paling mudah dan akurat untuk mendapatkan informasi adalah dengan mencari info dari narasumber. Sebetulnya ada dua cara untuk mendapatkan info dari narasumber. Pertama, dengan mengajukan pertanyaan langsung ke mereka. Kedua, dengan mengikuti kegiatan sehari-hari mereka (misalnya bila ingin riset tentang pekerjaan).

Proses riset sendiri sebetulnya tidak terbatas hanya pada saat sebelum proses menulis. Sering kali di tengah proses menulis, kita akan menemukan hal-hal yang belum kita ketahui dengan pasti. Oleh karena itu, proses riset bisa terus berlangsung selama proses menulis.

Sayangnya riset di tengah proses penulisan bagi sebagian orang akan terasa menganggu mood dan konsentrasi. Kalau kamu merasakan hal yang sama juga, salah satu alternatif yang bisa kamu lakukan agar proses riset tidak mengganggu proses menulis adalah kamu bisa mengumpulkan dulu semua pertanyaan selama masa penulisan. Setelah selesai, baru kamu lakukan reset lagi dan lengkapi “lubang” di tulisanmu. Cara ini akan menghemat waktu kamu dan waktu narasumbermu juga.

Selamat menggali informasi!

Advertisements

Manfaat Membuat Outline

outline

Kalau ditanya tentang apa bagian paling penting sebelum menulis novel, jawaban saya sudah pasti outline! Setiap kali ada yang bertanya tentang tips nulis, jawaban saya pasti ada kata-kata outline-nya. Ya, buat saya, segitu pentingnya bikin outline!

Kalau di postingan sebelumnya saya sudah membahas bagaimana cara bikin outline sebelum mulai nulis novel, kali ini saya mau bahas manfaat dari menulis outline. Semoga dengan tahu manfaatnya, teman-teman yang mau belajar nulis jadi makin semangat ya buat bikin outline.

Berikut ini 5 manfaat membuat outline:

1. Menghindari Writer’s Block

Dengan membuat outline, kamu sudah tahu jalan cerita yang akan kamu bangun dari awal sampai akhirnya. Dengan begini, kamu gak bakal kehabisan ide untuk cerita selanjutnya. Setiap kali bingung mau nulis apa, kamu tinggal lihat lagi outline-mu dan kamu bakal langsung tahu harus mulai nulis tentang apa.

2. Tulisan terarah

Setelah membuat outline, kamu tidak perlu lagi memikirkan keseluruhan cerita. Kamu hanya perlu fokus ke poin/ chapter yang sedang kamu kerjakan. Dengan bagini, tulisanmu akan lebih terarah, gak “muter-muter”, dan pastinya gak membahas terlalu jauh.

3. Efektif

Dengan adanya outline, kamu gak lagi menghabiskan waktu untuk bengong cari ide tulisan di lembar selanjutnya. Gak ada lagi cerita kamu satu jam menghadap word kosong dan masih belum nemu inspirasi. Jadi menulis outline jelas akan menghemat waktu dan menghindari kamu membuang-buang waktu tanpa hasil.

4. Memastikan cerita komplit

Saat menulis cerita, kadang tanpa kita sadar ada hal-hal yang terlewat untuk kita jelaskan. Ini bisa terjadi kalau kita hanya menyimpan semuanya dalam ingatan kita, sehingga kita gagal melihat “lubang” dalam cerita. Fatalnya, “lubang” dalam cerita bisa membuat cerita menjadi tidak masuk akan dan membuat pembaca “ilfeel”. Nah, dengan menulis semua poin sebelum menulis, akan lebih mudah bagi kamu untuk melihat bagian-bagian yang masih kurang dan masih perlu ditambahkan untuk membangun cerita.

5. Acuan untuk calon editormu

Pada akhirnya kamu pasti pengen dong buku kamu diterbitkan penerbit. Nah, jangan lupa untuk menyertakan outline saat mengirim naskah kamu. Dengan adanya outline ini, editor akan mendapat gambaran keseluruhan tentang isi naskah kamu. Siapa tahu calon editormu langsung kepincut saat baca outline-mu.

Sekarang sudah tahu kan apa saja manfaat bikin outline sebelum nulis novel? Jadi jangan pernah lewatkan bagian penting satu ini yah!

Cara Membuat Outline Novel

typewriter-801921_1920

Kalau dengar kata outline, jadi inget pelajaran bahasa Indonesia gak sih? Hihi.. Tapi jangan pusing duluan, bikin outline itu gampang kok!

Pertama-tama, sebetulnya apa sih outline itu?

Outline atau kerangka cerita adalah struktur alur cerita yang akan ditulis. Untuk sebuah novel, outline ini biasanya berisi poin-poin utama yang akan diangkat dalam setiap chapter.

Menurut saya, outline adalah sesuatu yang wajib dibuat sebelum mulai menulis novel karena outline merupakan peta dalam menulis dan outline ini adalah senjata nomor wahid untuk menghalau writer’s block.

Nah, bagaimana sih caranya membuat outline?

Berikut ini langkah-langkahnya:

1. Bagi cerita jadi 3 bagian utama

Tiga bagian utama dalam cerita adalah bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Pada bagian awal, biasanya berisi perkenalan karakter utama, masalah utama yang sudah ada, dan tindakan yang akan dilakukan karakter utama. Bagian tengah berisi setiap detil tindakan si karakter terhadap masalah yang ada. Dan bagian akhir adalah solusi atau konsekuensi dari semua tindakan yang sudah diambil.

Contoh:

Awal : Perkenalan tokoh A. Si A sudah jomblo seumur hidup dan bertekat lebih gigih cari pacar.
Tengah : Si A berjuang cari pacar.
Akhir : Si A dapat pacar.

2. Buat Talking Point

Setelah kamu membagi cerita jadi 3 bagian, saatnya kamu membuat daftar poin-poin yang ingin kamu bahas dari setiap bagiannya. Setiap satu poin akan mewakili satu chapter. Pastikan juga dari satu poin ke poin berikutnya saling berkesinambungan. Ini akan membuat pembaca penasaran dan terus ingin membaca ceritamu.

Contoh:

Awal
I. Perkenalan Tokoh A
II. Tokoh A menemukan kitab cara cepat punya pacar

Tengah
III. Tokoh A mempraktekan saran nomor satu dari kitab barunya: selalu senyum
IV. Tokoh A mempraktekan saran nomor dua dari kitab barunya: rambut klimis
V. Tokoh A mempraktekan saran nomor tiga dari kitab barunya: mandi kembang
VI. Tokoh A tetap gagal dan hampir menyerah
VII. Tokoh A kenalan dengan Mbok Jamu baik hati

Akhir
VIII. Tokoh A jatuh cinta
IX. Tokoh Apunya pacar baru

Kurang lebih itulah contoh outline singkat dari sebuah novel yang akan ditulis. Semakin kompleks masalahnya, semakin panjang juga outline-nya.

3. Tambahkan keterangan (bila diperlukan)

Dari setiap poin yang sudah kamu buat, kamu bisa memberikan keterangan tambahan. Keterangan tambahan ini bisa berupa sub-poin atau poin-poin yang lebih detil. Bisa juga keterangan mengenai hal-hal yang relevan terhadap poin tersebut, misalnya quote, dan lain-lain.

Contoh:

VI. Tokoh A gagal terus dan hampir menyerah
      a. Tokoh A sedih meratapi kesendirian
      b. Tokoh A membakar kitab barunya
      c. Tokoh A tertidur dan mimpi jadi jomblo seumur hidup

Nah, kalau outline-mu sudah jadi, artinya kamu sudah ada bayangan yang jelas tentang cerita yang kamu akan tulis dari awal banget sampai akhir. Kalau sudah begini, tentunya kehabisan ide di tengah proses menulis bisa sangat amat diminimalisir kan? Itulah kenapa saya percaya banget kalau outline ini punya peranan penting untuk menghalau writer’s block.

Pada sebuah outline, setiap poin/ chapter tidak selalu setara. Ada chapter yang memang krusial karena mengandung inti cerita. Ada chapter yang hanya sebagai pelengkap untuk membangun cerita. Bila di tengah proses penulisan nanti ada chapter yang cukup krusial untuk ditambah, tentu kamu tetap boleh menambahkannya. Demikian pula bila kamu menemukan chapter yang bisa dihapus. Tapi jangan lupa untuk update outline yang sebelumnya sudah kamu buat ya karena outline ini bisa jadi gerbang awal untuk menggaet hato editor bila kamu ingin novelmu diterbitkan.

Selamat menulis!